Banyak orang beranggapan bahwa penyakit panu atau kurap
sekadar masalah kosmetik. Pernah menikmati tempe atau tapai? Di masyarakat
Indonesia kedua makanan ini sangat akrab sebagai hidangan di atas meja. Makanan
dari kedua jenis bahan itu cukup lunak dan nikmat ketika dimakan. Ini tentu
berbeda bila kita menyantap bahan bakunya. Tidak lunak, bukan?
Kenikmatan rasa tempe, tapai, roti, oncom, dan masih banyak
jenis makanan yang lainnya itu dihasilkan dari proses fermentasi jamur.
Kehadiran jamur dimanfaatkan untuk hal lain, seperti untuk melengkapi sayuran
dan lauk-pauk bagi keluarga, dan untuk menghasilkan obat antibiotik.
Di dunia diperkirakan terdapat 100 ribuan jenis jamur.
Tergolong ke dalam kelompok fungi, jamur bisa saja terdiri atas satu sel yang
besarnya beberapa mikrometer, atau dapat juga membentuk tubuh buah yang
besarnya mencapai satu meter. Sel-selnya tersusun berderet satu per satu dan
membentuk hifa atau benang-benang (filamen). Alat perkembangbiakannya berupa
spora.
Karena tak punya hijau daun, jamur menjadi makhluk konsumen
dan sangat bergantung pada medium yang menyediakan karbohidrat, protein,
vitamin, dan persenyawaan kimia lainnya. Semua itu didapatkannya dengan cara
menyerap unsur yang dibutuhkan dari lingkungan hidupnya melalui sistem hifa.
Selain bisa melakukan fermentasi medium karbohidrat menjadi
gula, jamur pun juga sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan jamur,
sampah dan bangkai makhluk hidup lainnya bisa terurai. Namun, seringkali jamur
juga dapat menguraikan bahan yang diperlukan manusia sehingga bisa mendatangkan
kerugian. Pembusukan pada makanan dan pelapukan pada kayu cukup merepotkan
manusia. Tak hanya itu, jamur bisa beracun dan menyebabkan penyakit tertentu.
Jamur pada manusia
Jamur memang sangat erat hubungannya dengan kehidupan
manusia. Sedemikian eratnya sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Jenis
fungi-fungian ini bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah,
air, pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri.
''Jelasnya, di mana pun jamur bisa hidup, terutama di
lingkungan yang cocok baginya berkembang biak. Manusia itu termasuk salah satu
tempat bagi jamur untuk tumbuh, di samping bakteri dan virus,'' jelas pakar
kesehatan kulit dan kelamin, Dr Kusmarinah Bramono dari FKUI (RSUPN-Cipto
Mangunkusumo) dalam pemaparan tentang jamur di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi
manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang menyerang langsung pada
kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin dari jamur yang ada dalam
produk makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur beracun.
Pada manusia jamur hidup pada lapisan tanduk. Jamur itu
kemudian melepaskan toksin yang bisa menimbulkan peradangan dan iritasi
berwarna merah dan gatal. Infeksinya bisa berupa bercak-bercak warna putih,
merah, atau hitam di kulit dengan bentuk simetris. Ada pula infeksi yang
berbentuk lapisan-lapisan sisik pada kulit. Itu tergantung pada jenis jamur
yang menyerang.
Menurut Jimmy Sutomo dari perusahaan Janssen-Cilag, sebagai
negara tropis Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya jamur. Karena itu,
penyakit-penyakit akibat jamur sering kali menjangkiti masyarakat.
''Kita lihat, banyak masyarakat tak menyadari bahwa dirinya
terinfeksi oleh jamur. Bahkan, jamur bisa mengenai manusia dari kepala hingga
ujung kaki, dari bayi hingga orang dewasa dan orang lanjut usia,'' ujar Jimmy.
Janssen-Cilag merupakan perusahaan farmasi yang memimpin pasaran dengan obat
antijamur yang mengandung miconazole nitrate dua persen.
Jimmy menjelaskan, banyak orang meremehkan penyakit karena
jamur, seperti panu atau kurap. Padahal, penyakit ini bisa menular lewat
persentuhan kulit, atau juga dari pakaian yang terkontaminasi spora jamur.
Banyak anggapan, katanya, penyakit panu atau kurap sekadar masalah kosmetik.
Anggapan ini dibenarkan Kusmarinah. ''Kami sering menangani
pasien karena jamur. Mereka baru datang ke dokter kalau sudah merasakan
gangguan kosmetik yang parah akibat infeksi jamur. Sebelumnya, mereka tak
begitu memperhatikan penyakit ini.''
Pengobatan
Seharusnya, lanjut ahli kulit dari FKUI itu, masyarakat
perlu memperhatikan kebersihan diri dan menjaga kekebalan tubuhnya bila ingin
terhindar dari infeksi jamur. Bahaya infeksi jamur tak sekadar menyebabkan panu
atau kurap saja, tapi juga bisa menyebakan kematian bila infeksinya meluas dan
bahkan masuk ke organ dalam tubuh.
Karena itu, bila mendapati dirinya terkena infeksi jamur
maka seseorang itu perlu segera diobati. Pengobatan yang dilakukan biasanya
dengan antijamur. Lamanya pengobatan tergantung pada tingkat infeksi yang
terjadi. ''Pengobatan diusahakan dilakukan sampai penyakit hilang dan sembuh
benar. Kami pun harus memilih jenis obat antijamur yang efektif membasmi jamur
dengan efek samping yang minimal,'' sambung Kusmarinah.
Dia mengemukakan, ada jenis obat yang bersifat iritan.
Maksudnya, cara kerja obat tersebut memapas jamur dengan mengikis permukaan
yang terkena jamur tiap lapisan. Biasanya obat ini memerlukan waktu 1-4 minggu
untuk jenis panu atau kurap. Tapi, kondisi inipun tergantung pada tingkat
keparahannya. Jenis obat lainnya bersifat fungisida. Ini lebih mengarahkan
sasaran pada jamur itu sendiri tanpa mengiritasi kulit.
Kusmarinah dan Jimmy mengakui, banyak produk farmasi khusus
untuk obat jamur kulit yang dijual bebas di pasaran. Umumnya masyarakat pun
melakukan self medication atau pengobatan sendiri dengan membeli obat antijamur
yang bebas itu. ''Bisa-bisa saja penderita melakukannya. Hanya saja, asal tahu
jelas jenis infeksi jamur yang dideritanya. Namun, saya sering menemukan,
masyarakat salah menggunakannya. Mereka biasanya berlebihan dalam menggunakan
obat. Akibatnya, ketika kami diagnosis sulit bagi kami untuk melihat
gejalanya,'' demikian Kusmarinah merincinya.
Itu juga karena persoalan informasi yang tak sampai pada
masyarakat pengguna produk. ''Untuk informasi produk seharusnya disampaikan
oleh ahli farmasi. Di negara kita, fungsi ini tak berjalan,'' cetus Jimmy.
Maka, masyarakat diharapkan berhati-hati dalam menggunakan
obat. Sebab, infeksi jamur tak bisa dianggap enteng dan tak selalu bisa diatasi
dengan pengobatan sendiri. Apalagi, dari seluruh penyakit kulit yang ditemui,
masalah infeksi jamur ternyata tergolong cukup tinggi. Dengan demikian,
masyarakat diharapkan meminta saran pengobatan kepada dokter dan melakukan
pencegahan terhadap infeksi jamur.
Kenali Jenis Infeksi Jamur Kulit
* Panu (pitiriasis versikolor): menyerang kulit, bercak
putih, merah, atau hitam.
* Kurap (dermatofitosis) yang terdiri atas Tinea Apitis
menyerang kulit kepala, Tinea Korporis pada permukaan kulit, Tinea Kruris pada
lipatan kulit, Tinea Pedis pada sela jari kaki (athlete's foot), Tinea Manus
pada kulit telapak tangan, Tinea Imbrikata berupa sisik pada kulit di daerah
tertentu, dan Tinea Ungium (pada kuku). Umumnya berbentuk sisik kemerahan pada
kulit atau sisik putih. Pada kuku, terjadi peradangan di sekitar kuku, dan bisa
menyebabkan bentuk kuku tak rata permukaannya, berwarna kusam, atau membiru.
* Ketombe (Pitiriasis Sika).
* Infeksi Kandida (kandidosis) pada lipatan kulit, sela
jari, sela paha, ketiak, bawah payudara, mulut (sariawan), genetalia
(keputihan), dan ruam popok.
Faktor-faktor Pencetus Infeksi
- Lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan
pakaian tak menyerap keringat.
- Keringat berlebihan karena berolahraga atau karena
kegemukan.
- Friksi atau trauma minor, misalnya gesekan pada paha orang
gemuk.
- Keseimbangan flora tubuh normal terganggu, antara lain
karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka panjang.
- Penyakit tertentu, misalnya HIV/AIDS, dan diabetes.
- Kehamilan dan menstruasi. Kedua kondisi ini terjadi karena
ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur.
Cara Memastikan Penyakit Jamur
- Pemeriksaan tampilan secara klinis.
- Pemeriksaan dengan bantuan sinar lampu Wood (UV), kerokan
kulit, mukosa, kuku untuk pemeriksaan mikroskopik, dan pemeriksaan biakan untuk
mengetahui jenis jamurnya.





0 komentar:
Posting Komentar